31 March 2009

BERITA KEPADA KAWAN - Ebiet G Ade

Di tengah kepungan bencana yang melukai ibu pertiwi ini, mari kita coba simak syair dari lagu berikut ini yang sudah dituliskan oleh pengarangnya sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Lagu ini penuh dengan sarat makna dan pesan yang mendalam serta tak lapuk dimakan oleh rayap waktu, tak terkikis oleh gelombang gerusan jaman.

* Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.
* Sayang engkau tak duduk disampingku kawan.
* Banyak cerita yang mestinya kau saksikan.
* Di tanah kering bebatuan.

* Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan.
* Hati tergetar menatap kering rerumputan.
* Perjalanan ini pun seperti jadi saksi.
* Gembala kecil menangis sedih.

* Kawan coba dengar apa jawabnya,
* Ketika dia kutanya mengapa.
* Bapak ibunya telah lama mati,
* Ditelan bencana tanah ini.

* Sesampainya di laut kukabarkan semuanya.
* Kepada karang kepada ombak kepada matahari.
* Tetapi semua diam, tetapi semua bisu.
* Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit.

* Barangkali di sana ada jawabnya.
* Mengapa di tanahku terjadi bencana
* Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
* yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

* Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.
* Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Lihat kata-kata berikut :
tanah kering bebatuan, batu jalanan, kering rerumputan, gembala kecil menangis sedih, bapak ibunya telah lama mati, ditelan bencana tanah ini.

Mari kita bandingkan kata-kata tersebut dengan alam Indonesia yang "katanya" subur, makmur, loh jinawi, biji apapun yang ditanam pasti tumbuh di tanah ibu pertiwi ini, dan lain sebagainya. Inikah ungkapan betapa kita sudah merusak alam sehingga yang tersisa hanyalah tanah kering bebatuan, kering rerumputan, dan tinggal kerasnya batu jalanan?

Siapakah gembala kecil yang dimaksud dalam lagu ini? Kenapa dipilih profesi gembala, dan kecil lagi. Mengapa bukan peternak, petani, nelayan, pedagang, pengusaha, politikus atau profesi lain? Karena hanya gembalalah yang memiliki tugas merawat dan menjaga dengan penuh kasih sayang terhadap hewan peliharaannya, dari lahir sampai tua. Tidak ada niatan untuk menyembelih, mengorbankan, atau menjual secara kiloan hewan peliharaannya.

Peternak > cari bibit baik sana sini, dikembangbiakkan, dirawat (tidak dengan kasih sayang) supaya gemuk dan sehat, ketika saatnya tiba, jual kiloan.
Petani > menanam bibit, setelah masa panen tiba, tanaman ditebas, kemudian jual.
Nelayan > tidak menebar bibit ikan, tapi mengambil dari lautan, dapat banyak ikan, jual.
Pedagang dan Pengusaha > apapun di tangan yang bisa menghasilkan duit, jual.
Politikus > tidak hanya apapun, tapi juga siapapun, bagaimanapun, yang jelas bisa menguntungkan, jual.
Lihat nilai kasih sayang yang terkandung dari profesi gembala ini. Jadi, bukankah ada juga istilah Gembala Yang Agung?

Sesampainya di laut.. Ketika bertemu dengan laut, maka laut adalah batas terakhir dari langkah manusia untuk melakukan pencarian. Selesai sudah pencarian jika sudah bertemu laut, balik kanan grak. Kenapa? Karena tidak ada sesuatu yang menjanjikan di seberang lautan. Kok tidak menjanjikan? Lha iya, tidak nampak apa-apa. Hanya cakrawala, hanya garis lurus, dan banyak "hanya.. hanya.." yang lain. Mana menjanjikannya? Tidak ada. Jadi laut inilah batasnya.
Kepada karang, ombak dan matahari, tetapi semua diam, semua bisu. Karang, ombak, matahari dan alam adalah saksi selama berjuta tahun terhadap tingkah laku manusia. Ketika awal dunia terbentuk, "mungkin" mereka masih memberikan banyak nasehat kepada manusia. Tetapi kok ya, dasar manusia yang tidak pernah berubah, akhirnya mereka bosan dan membiarkan manusia dengan kehidupannya.

Terpaku menatap langit.. Inilah harapannya. Di langit banyak benda yang tak terjangkau dan tak terkuasai manusia, seperti bintang, bulan, matahari, pelangi, dan lain sebagainya. (Pesawat terbang dan balon tidak termasuk, karena masih bisa dijangkau dan dikuasai manusia). Nampak bendanya, beda dengan lautan yang menawarkan garis lurus saja. Tapi langit memperlihatkan benda-benda, memperlihatkan harapan. Dan di sanalah Tuhan Yang Maha Agung bertahta. Harapan selalu berada di atas, kecuali sedang menggali sumur ya.. berharap-harap cemas dapat air di bawah.

Apakah Tuhan sudah bosan? tentu jawabannya jelas sekali, "Tidak, Tuhan tidak pernah bosan dengan manusia." Itu sudah pasti.

Pertanyaan lain, "Apakah kita bangga dengan dosa-dosa kita?". Silahkan menjawab. Lah wong nggak ngerti mana yang dosa dan mana yang nggak kok? So, ya manusia selalu bangga dengan segala perbuatannya, gak tahu itu dosa atau tidak, ya kan?

"Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita?" Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.
Rumput adalah satu diantara tiga makhluk hidup terlihat (manusia, hewan, tumbuhan). Rumput adalah tumbuhan, tidak punya otak, dan menggantungkan kehidupannya pada kebaikan alam sekitarnya. Bergoyang karena ditiup sang bayu (yaitu angin).

Apakah makna dari rumput yang bergoyang?

2 comments:

s a n d i said...

Indah Mas syairnya Bang Ebiet G Ade
aku sangat suka syair lagu ini
sarat akan makna...
Apresiasinya juga bagus..

salamku"sandi"

testor said...

testing 1

testing 2